Tujuan penelitian ini dilakukan adalah untuk mencari kombinasi portofolio kredit yang menghasilkan risiko kredit terkecil berdasarkan sektor ekonomi pada masing-masing kategori perbankan di Indonesia, yakni pada Bank Pesero, Bank Pembangunan Daerah, Bank Swasta Nasional, Bank Swasta Asing-Campuran. Metode penelitian yang digunakan dalam pengumpulan data adalah metode sensus, seluruh data yang tersedia digunakan dalam penelitian ini. Jenis data yang digunakan adalah data sekunder, mencakup data-data bulanan posisi kredit sepuluh sektor ekonomi perbankan di Indonesia berdasarkan kategori-kategori bank periode tahun 1999-2006 untuk kategori Bank Persero, Bank Swasta Nasional, dan Bank Swasta Asing-Campuran, serta periode tahun 2000-2006 untuk kategori Bank Pembangunan Daerah yang diperoleh dari Data Statistik Bank Indonesia. Total data yang digunakan dalam penelitian ini berjumlah 3.720 data yang berasal dari sepuluh sektor ekonomi masing-masing kategori perbankan di Indonesia dari tahun 1999- 2006. Hasil yang diperoleh dari penelitian menunjukkan setiap kategori perbankan di Indonesia memiliki komposisi sektor ekonomi yang berbeda-beda dalam pemberian kredit dengan risiko kredit terkecil, meskipun terdapat kesamaan yakni pada sektor ekonomi Listrik, Gas, Air. Kategori Bank Persero ditempati oleh sektor ekonomi Listrik, Gas, Air dilanjutkan sektor ekonomi Pertambangan, Sosial Masyarakat, dan Transportasi. Kategori Bank Pembangunan Daerah komposisi sektor ekonomi yang memiliki risiko terkecil jika mengutamakan pemberian kredit pada sektor ekonomi Listrik, Gas, Air, dan sektor ekonomi Pertambangan, sedangkan Bank Swasta Nasional risiko kredit terkecil diperoleh dengan menekankan pemberian kredit hanya pada sektor ekonomi Listrik, Gas, dan Air, dan untuk kategori Bank Swasta Asing-Campuran risiko kredit terkecil diperoleh apabila mengutamakan posisi kredit pada sektor ekonomi Listrik, Gas, Air, dilanjutkan dengan sektor ekonomi Sosial Masyarakat dan Pertambangan.
5 Okt 2010
ANALISIS PENGARUH HARGA SPOT DAN HARGA FORWARD TERHADAP HARGA DIMASA MENDATANG KOMODITAS CPO (STUDI PADA BURSA DERIVATIF MALAYSIA KOMODITAS CPO)
Para investor, perusahaan multinasional dan pemerintah memerlukan peramalan harga komoditas dimasa mendatang untuk mengambil keputusan mengenali lindung nilai jual komoditas serta investasi jangka pendek. Proses membuat peramalan dari indikator yang terdapat pada pasar komoditas dikembangkan dalam berbagai pendekatan seperti pendekatan the expectation theory of forward, random walk maupun market based forecasting. Pendekatan the expectation theory of forward menyebutkan bahwa harga forward merupakan unbiased predictor terhadap harga future (Wesso,1999), Random walk menyatakan bahwa harga spot yang terjadi menggambarkan informasi yang relevan dalam menentukan harga future (Leuthold,1972) pendekatan market based forecasting diaplikasikan berdasarkan 2 pendekatan yaitu unbiased efficiency hypothesis dan simple random walk yang menggunakan harga spot dan harga forward sebagai prediktor (Imad A. Moosa, 2004) Penelitian ini menggunakan model regresi sederhana untuk melihat pengaruh harga spot dan harga forward secara individu terhadap harga CPO di masa mendatang. Sedangkan model regresi berganda digunakan untuk melihat pengaruh harga spot dan harga forward secara simultan terhadap harga future komoditas CPO. Variabel variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah harga spot, harga forward dan harga future dengan rentang waktu 3 bulan. Sampel yang digunakan adalah transaksi yang terjadi di Bursa Malaysia Derivatives (MDEX) khusus untuk komoditi CPO selama tahun 2003 – 2008. Berdasarkan sampel periode yang digunakan, bukti empiris menunjukkan bahwa Harga spot dan harga forward ( komposit ) merupakan prediktor terbaik terhadap harga future CPO yang didasarkan pada pendekatan market based forecasting. Tetapi kurs spot dan kurs forward secara individu masih memiliki pengaruh yang signifikan dalam memprediksi harga future.
ANTESEDEN EXPERIENTIAL MARKETING DAN KONSEKUENSINYA PADA CUSTOMER’S BRAND LOYALTY MOTOR YAMAHA DIKOTA SEMARANG
Experiential Marketing dan Brand Loyalty Industri kendaraan roda dua sat ini bersaing dengan ketat dimana Honda peaing terbesaR Yamaha. Untuk memenangkan persaingan salah satunya adalah membentuk loyalitas merek, loyalitas merek dapat dibangun dengan experiential markeing. Hal ini menimbulkan pertanyaan “apa pengaruh strategic experiences modules terhadap experiential marketing dan apa pengaruh experiential marketing terhadap brand loyalty?”, seperti dalam berbagai teori dan jurnal yang ada dan apakah hal tersebut juga terdapat dalam industri kendaraan bermotor roda dua, PT. Yamaha Motor Kencana Indonesia yang merupakan masalah yang ingin diteliti dalam penelitian ini. Model penelitian tersebut menunjukkan adanya 6 (empat) hipotesis. Hipotesishipotesis dalam gambar 2.11, antara lain adalah sense berpengaruh positif terhadap experiential marketing (hipotesis 1), feel berpengaruh positif terhadap experiential marketing (hipotesis 2), think berpengaruh positif terhadap experiential marketing (hipotesis 3), act berpengaruh positif terhadap experiential marketing (hipotesis 4), relate berpengaruh positif terhadap experiential marketing (hipotesis 5), experiential marketing berpengaruh positif terhadap brand loyalty (hipotesis 6) Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini dilakukan dengan cara metode purposive sampling. Cara ini diambil dengan teknik pengambilan sampel dengan berdasarkan pertimbangan tertentu, yaitu pembeli dan pelanggan Motor Yamaha yang menggunakan motor Yamaha minimal 3 tahun. Jumlah responden yang ditentukan sebagai sampel dalam penelitian ini adalah 138.. Teknik analisis yang dipakai untuk menginterpretasikan dan menganalisis data dalam penelitian ini adalah dengan teknik Structural Equation Model (SEM) dari software AMOS 16. Proses analisis yang dilakukan terhadap data penelitian yang diperoleh dari 138 responden. Hasil analisis data tersebut akan menjelaskan hubungan kausalitas antara variabel yang sedang dikembangkan dalam model penelitian ini. Model yang diajukan dapat diterima setelah asumsi-asumsi telah terpenuhi yaitu normalitas dan Standardized Residual Covariance < square ="244,833;" probability =" 0,073;" gfi =" 0,864;" agfi =" 0,824;" cfi =" 0,996;" tli =" 0,983;" rmsea =" 0,032;" df =" 1,14.">
ANALISIS PENGARUH NILAI TUKAR, SUKU BUNGA, LAJU INFLASI DAN PERTUMBUHAN GDP TERHADAP INDEKS HARGA SAHAM SEKTOR PROPERTI
Tidak stabilnya situasi moneter yang tercermin dari nilai tukar rupiah, suku bunga, inflasi dan pertumbuhan GDP mengakibatkan kekacauan dalam perekonomian. Hal tersebut menunjukkan eratnya pengaruh makro ekonomi terhadap indeks harga saham di pasar saham. Tujuan dari penelitian ini adalah mengkaji mengenai pengaruh indikator ekonomi makro, tingkat inflasi, suku bunga, kurs, dan pertumbuhan terhadap indeks harga saham sektor properti selama periode tahun 2000-2008. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan regresi linier berganda. Data diperoleh dari Monthly Statictic, Indonesia Stock Exchange, Indikator ekonomi dari Badan Pusat Statistik, Laporan bulanan Bank Indonesia dan Indonesian Capital Market Directory. Pengambilan sampel menggunakan purposive sampling dan data dikumpulkan dengan teknik mencatat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel nilai tukar memiliki pengaruh positif signifikan dan variabel inflasi berpengaruh negatif signifikan terhadap indeks harga saham sektor properti, sedangkan variabel suku bunga dan pertumbuhan GDP hanya signifikan bila diuji secara bersamaan dan tidak berpengaruh signifikan bila diuji secara parsial.
ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI NILAI YANG DIRASAKAN PELANGGAN UNTUK MENCIPTAKAN KEPUASAN PELANGGAN DI RSUP DOKTER KARIADI SEMARANG
Penelitian ini menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi nilai yang dirasakan pelanggan untuk menciptakan kepuasan pelanggan di RSUP. Dr. Kariadi Semarang. Rumusan masalahnya adalah bagaimana menciptakan kepuasan pelanggan. Penelitian ini mengembangkan sebuah model penelitian. Responden dalam penelitian ini sebanyak 105 orang keluarga pasien di Paviliun Garuda RSUP. Dr. Kariadi Semarang. Penelitian ini menggunakan Structural Equation Modeling (SEM) yang dijalankan melalui program AMOS 16 sebagai alat analisisnya. Hasil Analisis data menunjukkan bahwa model penelitian dan hasilnya dapat diterima. Hasil penelitian membuktikan bahwa citra merek dan kualitas pelayanan mempunyai pengaruh positif dan signifikan terhadap nilai yang dirasakan. Selanjutnya, nilai yang dirasakan berpengaruh positif dan signifikan dalam menciptakan kepuasan pelanggan. Semakin tinggi citra merek dan kualitas pelayanan maka nilai yang dirasakan semakin tinggi dan menyebabkan kepuasan pelanggan yang semakin tinggi. Berdasarkan hasil penelitian ini maka implikasi teoritis dapat memberikan justifikasi yang lebih kuat bagi anteseden yang mempengaruhi nilai yang dirasakan pelanggan seperti citra merek dan kualitas pelayanan. Implikasi manajerial dari penelitian ini adalah pihak manajemen Rumah Sakit perlu memberikan perhatian lebih untuk mengevaluasi dan meningkatkan kepuasan pelanggan serta selalu mempromosikan Paviliun Garuda RSUP. Dr. Kariadi.
KEUNGGULAN KOMPETITIF MELALUI STRATEGI PENGUASAAN WILAYAH, KOMPETENSI SUMBER DAYA MANUSIA DAN ORIENTASI PASAR (Studi Kasus pada PT...)
Persaingan di lingkungan bisnis telekomunikasi yang terus menerus berubah dan semakin ketat ini mengharuskan PT. Indosat,Tbk memformulasikan strategi yang tepat untuk mempertahankan atau memperbaiki posisinya ,sehingga Indosat harus memiliki strategi efektif supaya tetap bertahan hidup dan mendapatkan pertumbuhan yang berkesinambungan. Model penelitian ini dikembangkan dengan menggunakan dasar teori mengenai keunggulan kompetitif (Michael Porter, Jesper Standskov); manajemen territori (Burgoyne, Deutscher dan Ash), kompetensi sumber daya manusia (Khandekar dan Sharma) dan orientasi pasar (Slater dan Narver). Metode penelitian ini menggunakan sensus, dengan populasi sebanyak 150 kepala cabang dan kepala perwakilan PT. Indosat di seluruh Indonesia. Akan tetapi, hanya 120 data yang dapat digunakan karena sebanyak 17 kuesioner diisi tidak lengkap, dan sebanyak 13 kuesioner tidak kembali. Data jawaban dari responden tersebut kemudian dianalisis kesesuaiannya dengan model penelitian yang dikembangkan dari kerangka teoritis menggunakan analisis konfirmatori SEM. Hasil penelaahan lebih jauh ternyata menunjukan bahwa keunggulan kompetitif , berpengaruh positif terhadap kinerja bisnis. Orientasi pasar, kualitas sumber daya manusia dan manajemen wilayah pemasaran dapat menciptakan keunggulan kompetitif. Keunggulan kompetitif yang dimiliki Indosat terletak pada kompetensi diri karyawan. Kapabilitas dibangun dengan cara mengedepankan sumber daya manusia yang dimiliki, mulai dari pembinaan potensi, mutasi, rotasi training dan assessment, termasuk pendayagunaan komunikasi internal melalui email dan forum komunikasi yang disampaikan melalui CEO blog
STRATEGI MANAJEMEN SEBAGAI FAKTOR MITIGASI TERHADAP PENERIMAAN OPINI GOING CONCERN Studi Empirik pada Perusahaan Manufaktur di Indonesia
Teori agensi mendasari hubungan antara prinsipal dan agen, dimana pemegang saham selaku prinsipal memberikan kepercayaan kepada manajer selaku agen untuk menjalankan usahanya termasuk mengambil keputusan penting guna menjaga kontinuitas perusahaan. Selanjutnya pemegang saham akan mengevaluasi pertanggungjawaban manajemen khususnya pertanggung jawaban keuangan melalui auditor independen yang akan melakukan proses audit yang berakhir dengan pemberian opini auditor. Bagi perusahaan yang mengalami kesulitan keuangan (financial distress) kemungkinan untuk menerima opini going concern semakin besar (Mc.Keown, et al., 1991; Behn et al.,2001). Oleh karenanya manajer akan melakukan berbagai strategi untuk tidak menerima opini going concern karena opini tersebut memberikan sinyal kepada pengguna laporan keuangan akan keraguan auditor atas kemampuan perusahaan untuk menjalankan usahanya dan lebih lanjut penerimaan opini tersebut dapat berdampak terhadap kesulitan perusahaan mencari pinjaman (Firth,1980), menurunnya harga saham (Jones,1996) dan dapat menyebabkan kebangkrutan perusahaan atau self fulfilling prophecy effect (Mutchler,1984; Hopwood et al.,1989) . Penelitian ini dimotivasi oleh pemberlakukan Pernyataan Standar Auditing (PSA) Nomor 30 (SPAP,2001) yang mewajibkan auditor untuk mengevaluasi rencana manajemen untuk mengatasi kesulitan keuangan bagi perusahaan yang mengalami financial distress, demikian pula rekomendasi dari LaSalle dan Anandarajan (1996) bahwa untuk memberikan opini going concern auditor perlu mengevaluasi viability strategy atau strategi manajemen yang dapat menjaga kelangsungan hidup perusahaan serta didorong adanya perkembangan metodologi audit yang berbasis pendekatan top-down holistic yaitu pendekatan audit berbasis resiko bisnis klien yang telah dilakukan oleh beberapa kantor akuntan publik besar (Knechel,2001; Curtis dan Turley,2005). Disisi lain Hofer (1980) yang selanjutnya dikembangkan oleh Capon (1992), Sudarsanam dan Lai (2001) dan Bruton et al. (2003) memberi bukti empiris bahwa bagi perusahaan yang mengalami financial distress dapat melakukan berbagai strategi yang dapat meningkatkan kinerjanya melalui strategi jangka pendek (operational turnaround approach) dan strategi jangka panjang (strategic turnaround approach). Fenomena yang ada di Indonesia menunjukkan data perusahaan manufaktur yang mengalami financial distress tahun 2001 sampai dengan tahun 2005 yang menerima opini going concern sejumlah 41,45% , konsisten dengan hasil penelitian Ramadhany (2004) bahwa sejumlah 40,69% perusahaan yang mengalami financial distress menerima opini going concern. Dengan demikian diduga bahwa opini going concern yang diterima perusahaan tidak hanya didasarkan pada kondisi keuangan namun juga dipengaruhi oleh informasi yang bersifat mitigasi atau informasi baik (good news) yang dapat mengurangi kemungkinan penerimaan opini going concern. Hal ini sesuai dengan rekomendasi yang disampaikan oleh Mirna dan Indira (2007) bahwa didalam menganalisis prediksi penerimaan opini going concern perlu dilakukan penelitian terhadap tindakan stratejik manajemen atau strategic action.Penelitian ini bertujuan memberi bukti empiris atas pertanyaan penelitian yang diajukan dengan melakukan pembuktian terhadap hipotesis tentang pengaruh strategi manajemen sebagai faktor mitigasi terhadap kemungkinan penerimaan opini going concern, yang meliputi strategi berbasis keuangan seperti strategi emisi saham, strategi mengeluarkan hutang baru atau melakukan restrukturisasi hutang. Disisi lain, dua strategi operasional yaitu strategi menjual aset tidak produktif dan strategi pengurangan biaya diduga sebagai variabel yang mempengaruhi kemungkinan penerimaan opini going concern. Sedangkan strategi non keuangan yang bersifat ekspansionis dan berorientasi pada pasar eksternal yang akan diteliti sebagai faktor mitigasi meliputi strategi kerjasama atau kontrak jangka panjang dan strategi pengembangan produk baru atau perluasan segmen pasar baru. Penggunaan variabel kontrol kondisi keuangan dan kegagalan hutang (debt default) didasarkan pada pemikiran bahwa opini going concern hanya diberikan pada perusahaan yang mengalami masalah keuangan / financial distress (McKeown et al,1991; Behn et al., 2001). Selanjutnya ukuran perusahaan digunakan sebagai variabel kontrol karena alasan bahwa perusahaan besar lebih mudah mengatasi kesulitan keuangannya karena memiliki jajaran manajemen yang lebih kuat sehingga kemungkinan untuk menerima opini going concern akan lebih kecil bagi perusahaan berukuran besar dibandingkan kemungkinan penerimaan opini going concern bagi perusahaan dengan ukuran yang lebih kecil (Kevin et al., 2006). Lebih lanjut kantor akuntan publik besar akan menjaga reputasinya dengan memberikan opini sesuai dengan hasil auditnya walaupun perusahaan sedang mengalami masalah keuangan sehingga perusahaan yang mengalami financial distress dan diaudit oleh Kantor Akuntan Publik besar lebih besar kemungkinannya menerima opini going concern (Mutchler et al., 1997) Pembuktian hipotesis yang diajukan didasarkan pada 275 sampel perusahaan yang mengalami financial distress yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia untuk tahun 2001 sampai dengan tahun 2005. Kriteria perusahaan yang mengalami financial distress jika memenuhi minimal salah satu kriteria (McKeown et al.,1991 ;Behn et al., 2001) sebagai berikut (1) modal kerja negatif, (2) laba ditahan negatif atau defisit, (3) laba operasi negatif dan (4) laba bersih negatif. Pengujian hipotesis dan pembahasan variabel kontrol menggunakan regresi logistik. Pengujian fit model menggunakan Hosmer and Lemeshow’s Goodness of Fit Test yang hasilnya menunjukkan tingkat signifikansi lebih besar dari .05 yang berarti model yang digunakan sudah fit. Hasil Negelkerke R Square menunjukkan bahwa variabel strategi manajemen yang dikontrol dengan kondisi keuangan, status hutang, ukuran perusahaan dan reputasi auditor dapat mempengaruhi kemungkinan penerimaan opini going concern sebesar 86,80%, hal ini juga didukung dengan hasil ketepatan prediksi dalam tabel klasifikasi sebesar 91,6%. Demikian pula penggunaan variabel kontrol terbukti dapat memperbaiki model penelitian karena sebelum digunakan variabel kontrol Negelkerke R Square hanya 20,1 % dan setelah digunakan variabel kontrol naik menjadi 86,8% dan ketepatan prediksi secara keseluruhan sebelum digunakan variabel kontrol sebesar 66,2%.dan setelah digunakan variabel kontrol menjadi 91,6%
ANALISIS PERBEDAAN SISTEM FRAKSI HARGA SAHAM TERHADAP VARIABEL BID-ASK SPREAD, DEPTH, DAN VOLUME PERDAGANGAN
Penelitian ini menyajikan perbedaan sistem fraksi harga saham terhadap variabel bid-ask spread, depth, dan volume perdagangan pada perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Untuk meningkatkan pasar modal agar lebih bergairah lagi serta mempertimbangkan risiko investasi yang cukup besar bagi investor, Bursa Efek Indonesia mengambil salah satu kebijakan dengan mengubah fraksi harga saham. Hal ini dituangkan dalam Keputusan Direksi PT Bursa Efek Jakarta Nomor: Kep-307/BEJ/12-2006 telah ditetapkan Perubahan/Penambahan Peraturan Nomor II-A tentang Perdagangan Efek (khususnya terkait dengan perubahan fraksi harga), mengenai perubahan atas satuan harga (fraksi) dalam melakukan tawar menawar efek. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengukur dan menganalisis perbedaan sistem fraksi harga saham terhadap bid-ask spread, depth, dan volume perdagangan pada perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Populasi dalam penelitian ini adalah semua perusahaan publik yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia, dengan periode pengamatan selama 10 hari sejak sistem fraksi harga saham baru berlaku. Penentuan sampel berdasarkan metode purposive sampling (memenuhi kriteria tertentu), sehingga terpilih 50 sampel pada kategori fraksi saham (Rp. 10, Rp. 25, Rp. 50) yang diberlakukan di Bursa Efek Indonesia. Penelitian ini menggunakan uji Analysis of Variance (ANOVA) untuk menganalisis perbedaan sistem fraksi harga saham yang menyebabkan perbedaan bid-ask spread, depth, dan volume perdagangan pada fraksi harga Rp. 10, Rp. 25, Rp. 50. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan terhadap bid-ask spread, depth dan volume perdagangan sejak pengumuman sistem fraksi harga saham baru. Dimana bid-ask spread mengalami penurunan, depth dan volume perdagangan mengalami peningkatan. Dengan adanya perbedaan yang signifikan dari peristiwa pemberlakuan fraksi harga saham baru terhadap bid-ask spread dan depth, maka dapat diidentifikasikan bahwa penerapan sistem fraksi harga saham baru termasuk dalam peristiwa dimana informasi belum dapat diantisipasi terlebih dahulu oleh investo
ANALISIS PENGARUH FAKTOR FUNDAMENTAL DAN KONDISI EKONOMI TERHADAP RETURN SAHAM
Penelitian mengenai pengaruh factor fundamental dan kondisi ekonomi terhadap return saham yang dilakukan antara lain oleh Tausikal. (2002), Aida dan Nur Indriantoro (1999) Syahib Natarsyah (2000), Liestyowati (2002), Hardiningsih et al. (2001), , Suciwati dan Machfoedz (2002), Utami dan Rahayu (2003) Andre Hernendiastoro (2005), masih banyak terjadi inkonsistensi dengan teori-teori pendukung yang ada. Hal ini menunjukkan adanya research gap mengenai pengaruh faktor fundamental dan kondisi ekonomi terhadap return saham. Oleh sebaba itu perlu dilakukan kajian lebih dalam lagi mengenai pengaruh faktor fundamental dan kondisi ekonomi terhadap return saham perusahaan. Permasalahan penelitian yang akan diteliti adalah “Return saham perusahaan Otomotif dan Komponen yang listed di Bursa Efek Indonesia mengalami fluktuasi sepanjang periode 2003-2007 dan adanya inkonsistensi pengaruh faktor fundamental perusahaan yang diproksikan dengan ratio CR, DER, ROA, dan TATO dan kondisi ekonomi yang diproksikan oleh nilai tukar rupiah dan tingkat suku bunga SBI terhadap return saham”. Sampel penelitian ini terdiri dari 17 perusahaan otomotif dan komponen yang terdaftar di bursa efek Indonesia selama periode tahun 2003-2007 metode pengambilan sample dengan menggunakan Purposive Sampling. Analisis data menggunakan regresi berganda dan hipotesis diuji dengan t test dan F test dengan tingkat signifikan sebesar 5%. Penelitian ini hendak menguji pengaruh antara Current Ratio (CR), Debt Equity Ratio (DER), Return on Assets (ROA), Total Asset Turn Over (TATO), Nilai Tukar Rupiah dan Tingkat Suku Bunga SBI terhadap Return Saham. Hasil analisis menunjukkan bahwa data yang digunakan didalam penelitian ini telah memenuhi asumsi klasik, yang meliputi: terdistribusi normal, tidak terjadi multikolinearitas, tidak terdapat autikorelasi dan tidak terjadi heterokedastisitas. Dari hasil analisis regresi diperoleh pula hasil secara parsial bahwa ROA, Nilai Tukar dan Suku Bunga SBI berpengaruh signifikan terhadap return saham, sedangkan CR, DER dan TATO pengaruhnya tidak signifikan.
Langganan:
Postingan (Atom)